AI untuk HR: Dari Sekadar Bertanya Menjadi Berkolaborasi dengan AI

Web Admin
August 7, 2026
Cerita Alumni
Natalina Sangapta mengoptimalkan penggunaan AI untuk pekerjaan HR melalui AI Upskilling Program.
Ditulis Oleh: Yulita Saumsinar, Project Manager, AI Upskilling Program RSA

“The quality of AI output depends on the quality of our thinking and prompting.”

— Natalina Sangapta, People and Culture Head, SOS Children’s Village Indonesia

Bagi banyak orang, AI hanyalah alat untuk mencari jawaban atau membuat tulisan lebih cepat. Namun bagi Natalina Sangapta, People and Culture Head di SOS Children’s Village Indonesia, AI memiliki peran yang jauh lebih besar.

Setelah mengikuti AI Upskilling Program dari Remote Skills Academy, cara Natalina menggunakan AI berubah sepenuhnya. Ia tidak lagi memandang AI sebagai mesin penjawab, melainkan sebagai thinking partner yang membantu mengembangkan ide, menyusun analisis, dan mempercepat berbagai pekerjaan strategis di bidang People and Culture.

Dari Sekadar Mencoba AI Menjadi Memahami Cara Berkolaborasi

Sebagai praktisi HR, Natalina melihat perkembangan AI sebagai sesuatu yang tidak bisa diabaikan. Ia ingin memahami bagaimana teknologi tersebut dapat mendukung pekerjaannya tanpa menggantikan proses berpikir manusia.

Keinginan itulah yang membawanya mengikuti AI Upskilling Program.

Selama mengikuti program, Natalina menyadari bahwa menggunakan AI ternyata tidak sesederhana mengetik pertanyaan lalu menerima jawaban. Hasil yang diberikan AI sangat bergantung pada bagaimana seseorang menyampaikan konteks, tujuan, dan instruksi.

Di sinilah cara pandangnya mulai berubah.

“Saya tidak lagi sekadar bertanya kepada AI. Saya belajar berkolaborasi dengannya.”

Apa yang Paling Berkesan dari AI Upskilling Program?

Materi mengenai Prompt Engineering dan Large Language Models (LLM) menjadi bagian yang paling membekas bagi Natalina.

Ia memahami bahwa AI bukan hanya mampu membantu membuat konten, tetapi juga dapat mendukung pekerjaan yang membutuhkan analisis, penyusunan ide, hingga pengambilan keputusan awal.

Namun, ada satu hal penting yang ia pelajari.

AI tidak akan menghasilkan jawaban yang baik tanpa arahan yang baik.

Menurut Natalina, kualitas output AI selalu berawal dari kualitas cara berpikir penggunanya. Semakin jelas konteks, tujuan, dan ekspektasi yang diberikan, semakin relevan pula hasil yang dihasilkan AI.

Bagaimana Natalina Menggunakan AI untuk Pekerjaan HR?

Setelah mengikuti pelatihan, AI menjadi bagian dari alur kerja sehari-harinya.

Dalam pekerjaannya di bidang People and Culture, Natalina menggunakan AI untuk membantu:

  • menyusun analisis dan brainstorming ide;
  • membuat draft kebijakan perusahaan, job description, serta membuat assessment;
  • menyusun presentasi 
  • merangkum hasil rapat;
  • menyiapkan draft email profesional.

AI membantunya menyelesaikan pekerjaan administratif lebih cepat sehingga ia memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada analisis dan pengambilan keputusan.

AI Tetap Membutuhkan Penilaian Manusia

Meski memanfaatkan AI setiap hari, Natalina tidak pernah menerima hasil AI begitu saja.

Ia selalu memulai dengan memahami kebutuhan terlebih dahulu, memberikan konteks yang lengkap, meminta AI membantu menyusun kerangka, lalu melakukan revisi sebelum hasil tersebut digunakan.

Baginya, AI hanyalah rekan berpikir.

Keputusan akhir tetap berada di tangan manusia.

Pendekatan ini membuat AI berfungsi sebagai alat yang mempercepat proses kerja tanpa mengurangi kualitas maupun tanggung jawab profesional.

Apa Dampaknya bagi Cara Kerja Natalina?

Perubahan terbesar yang dirasakan Natalina bukan hanya soal kecepatan.

AI memang membantu menghasilkan draft dokumen, ringkasan rapat, maupun presentasi dalam waktu yang lebih singkat. Namun manfaat utamanya adalah memberi ruang bagi Natalina untuk lebih fokus pada pekerjaan yang membutuhkan analisis, validasi, dan pertimbangan strategis.

Dengan demikian, waktu yang sebelumnya habis untuk pekerjaan administratif kini dapat dialihkan pada aktivitas yang memberikan nilai lebih besar bagi organisasi.

Pelajaran Terpenting yang Dibawa dari AI Upskilling Program

Bagi Natalina, AI bukan teknologi yang menggantikan manusia.

Sebaliknya, AI memperkuat kemampuan manusia ketika digunakan dengan cara yang tepat.

Pengalaman mengikuti AI Upskilling Program mengajarkannya bahwa prompt bukan sekadar memberi perintah kepada AI. Prompt adalah cara menyampaikan konteks, tujuan, dan arah berpikir agar AI dapat memberikan hasil yang benar-benar membantu.

Di sisi lain, setiap output tetap perlu diperiksa, divalidasi, dan disesuaikan dengan kebutuhan organisasi.

Karena pada akhirnya, kualitas AI selalu mencerminkan kualitas orang yang menggunakannya.

Tentang AI Upskilling Program

AI Upskilling Program merupakan program pembelajaran dari Remote Skills Academy yang membantu peserta memahami penggunaan AI secara praktis dan bertanggung jawab.

Program ini membahas berbagai materi mulai dari Basic AI, Generative AI, hingga Responsible AI, sehingga peserta dapat langsung menerapkannya dalam pekerjaan sehari-hari, baik di bidang HR maupun profesi lainnya.

Kesimpulan

Kisah Natalina menunjukkan bahwa keberhasilan menggunakan AI bukan ditentukan oleh seberapa canggih teknologinya, melainkan oleh cara manusia menggunakannya.

Dengan memahami cara memberikan konteks, menyusun prompt yang tepat, dan tetap melakukan validasi terhadap hasil AI, Natalina berhasil menjadikan AI sebagai thinking partner dalam pekerjaannya di bidang People and Culture.

Karena pada akhirnya, AI bukan pengganti manusia—melainkan alat yang membantu manusia berpikir dan bekerja dengan lebih baik.

 

Back to Top