
Saat lulus SMA, aku merasa menjadi salah satu orang yang paling beruntung. Dengan hanya bermodal ijazah SMA, aku diterima bekerja sebagai pramugari di salah satu maskapai terbaik di dunia. Bagiku saat itu, masa depan sudah terasa aman. Aku memiliki pekerjaan impian, penghasilan yang baik, dan kesempatan untuk berkeliling ke berbagai tempat. Setelah menyelesaikan training dan mulai bekerja, aku bahkan tidak pernah lagi berpikir untuk belajar hal baru. Buku-buku mulai berdebu, dan upskilling terasa tidak perlu. Toh, karierku sudah aman.
Lalu datanglah tahun 2020. Awalnya hanya terdengar seperti kabar tentang sebuah virus yang mulai menyebar di beberapa negara. Namun dalam hitungan minggu, semuanya berubah. Negara demi negara melakukan lockdown, penerbangan dibatasi, dan bandara menjadi sepi. Jam terbang kami terus berkurang. Sebagai pegawai kontrak, aku dan ratusan rekan kerja akhirnya dirumahkan selama tiga bulan tanpa gaji. “Tidak apa-apa,” pikirku saat itu. “Anggap saja ini pengorbanan demi perusahaan.”
Aku tetap menunggu dengan penuh harapan. Tiga bulan berlalu, lalu empat bulan, lima bulan, hingga akhirnya di bulan keenam kabar yang paling kutakuti datang. Kami diberhentikan. Setelah menunggu selama setengah tahun dengan harapan bisa kembali terbang, perusahaan akhirnya harus melepaskan kami karena pandemi tak kunjung membaik. Saat itu hanya ada satu pertanyaan yang terus berputar di kepalaku: “Sekarang aku harus bagaimana?”
Aku mulai mengirim CV ke mana-mana. Dalam waktu sekitar satu bulan, mungkin lebih dari 200 lamaran kukirim ke berbagai lowongan, baik online maupun offline. Hasilnya? Nyaris tidak ada balasan. Aku sadar, selain pengalaman dua tahun sebagai pramugari, aku hanyalah lulusan SMA tanpa keterampilan lain yang bisa kutawarkan. Aku sempat merasa putus asa, menangis hampir setiap hari. Tinggal sendirian di kamar kos di Jakarta membuat semuanya terasa jauh lebih berat. Namun hidup harus terus berjalan. Setiap pagi aku tetap bangun, merapikan kamar, membuka laptop, lalu kembali mencari pekerjaan yang mungkin bisa kulakukan.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Sampai suatu hari aku menemukan sesuatu yang mengubah cara pandangku tentang karier: remote working. Aku mulai membaca tentang digital nomad, bekerja dari mana saja, dan perusahaan-perusahaan internasional yang merekrut talenta dari berbagai negara. Aku berpikir, mungkin ini jalanku. Bahasa Inggris selalu menjadi salah satu kekuatanku. Kalau aku bisa memanfaatkannya dengan baik, mungkin aku bisa bekerja sebagai Remote Customer Service dari kamar kosku. Masalah selesai? Ternyata tidak semudah itu.
Persaingan untuk pekerjaan remote jauh lebih ketat daripada yang kubayangkan, terutama untuk posisi entry-level seperti Customer Service. Aku mencoba melamar berbagai pekerjaan lain, termasuk Search Engine Evaluator, hingga akhirnya setelah berbulan-bulan mengirim lamaran, aku mendapat panggilan interview pertamaku sebagai Virtual Assistant di sebuah perusahaan Filipina. Interview berjalan cukup baik. Mereka memasukkanku ke dalam talent pool dan mengatakan akan menghubungiku jika ada klien yang cocok. Namun mereka juga bertanya apakah aku menguasai beberapa tools yang biasa digunakan seorang Virtual Assistant. Dan aku tidak bisa menjawabnya.
Saat itulah aku sadar. Masalahnya bukan karena aku kurang beruntung. Masalahnya adalah aku belum memiliki keterampilan yang dibutuhkan. Alih-alih menyerah, interview itu justru menjadi titik balik. Aku mulai mencari tempat belajar hingga akhirnya menemukan Remote Skills Academy (RSA) dan mengikuti kelas Virtual Assistant mereka.
Di sanalah semuanya mulai berubah. Aku tidak hanya belajar tentang tugas seorang Virtual Assistant, tetapi juga memahami bagaimana bekerja secara remote, berkomunikasi dengan klien internasional, menggunakan berbagai tools digital, hingga membangun profesionalisme sebagai remote worker. Yang paling berharga, aku juga mendapatkan klien pertamaku melalui RSA. Hari itu menjadi awal dari perjalanan karier yang sama sekali baru.
Dalam waktu kurang dari satu tahun, hidupku berubah total. Pandemi memang mengambil pekerjaan yang selama ini kuanggap sebagai jaminan masa depan, tetapi pandemi juga memberiku hadiah yang jauh lebih berharga. Aku belajar bahwa keamanan karier bukan berasal dari perusahaan tempat kita bekerja. Keamanan karier berasal dari kemampuan yang kita miliki dan terus kita kembangkan.
Hari ini aku bekerja secara full-time di perusahaan internasional sambil terus membangun karier sebagai Virtual Assistant. Aku juga menemukan komunitas yang terus mendorongku untuk belajar, berkembang, dan menjadi versi diriku yang lebih baik setiap hari.
Ada satu kutipan yang selalu kuingat: “A bird sitting on a tree is never afraid of the branch breaking, because its trust is not in the branch, but in its own wings.” Dulu aku menggantungkan masa depanku pada sebuah perusahaan. Sekarang, aku percaya pada diriku sendiri, pada kemampuan yang terus kupelajari, dan pada keterampilan yang tidak akan bisa diambil siapa pun.
Kalau hari ini kamu sedang merasa kehilangan arah, kesulitan mencari pekerjaan, atau berkali-kali mendapat penolakan, percayalah bahwa kamu tidak sendirian. Teruslah belajar. Teruslah melangkah. Tidak perlu berlari. Just put one foot in front of the other. Suatu hari nanti, kamu akan menoleh ke belakang dan menyadari bahwa setiap langkah kecil itulah yang membawamu sampai di tempat yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya.
***
Kisah di atas adalah kisah Yosephine Anastasya, alumni Remote Skills Academy.
Mulailah karir kalian di dunia remote work sekarang. Virtual Assistance Recorded Online Course dari Remote Skills Academy sudah bisa dibeli dan diakses melalui link Mounev