Mengenal Lavinia Iosub: Founder Remote Skills Academy yang Membawa Perspektif Baru tentang Dunia Kerja Remote

Web Admin
October 12, 2026
Updates

Lavinia Iosub adalah founder Remote Skills Academy (RSA), platform pendidikan yang sejak 2020 membantu puluhan ribu anak muda Indonesia belajar skill digital untuk kerja remote. Ia tercatat sebagai Top 50 Remote Innovator pada 2023 dan 2024, dan kini fokusnya meluas ke pertanyaan tentang pekerjaan yang bermakna di era AI.

Artikel ini membahas siapa Lavinia, bagaimana RSA tumbuh dari kelas kecil di Bali menjadi komunitas dengan 40.000+ alumni dan memperluas jangkauannya ke Thailand, Hungary, Belgium, dan Rwanda. Artikel ini juga membahas arti pencapaian Lavinia dan RSA bagi dunia kerja remote di Indonesia, serta pelajaran yang bisa kamu ambil dari perjalanan para alumni RSA.

1. Siapa Lavinia Iosub dan kenapa ia mendirikan RSA?

Lavinia Iosub adalah entrepreneur kelahiran Romania yang tinggal di Bali dan menjalankan Livit International, ekosistem pendukung bagi entrepreneur, startup, dan pekerja remote. Ia mendirikan RSA pada 2020 karena melihat jurang besar antara kehidupan digital nomad di Bali dan kenyataan yang dihadapi warga lokal.

Latar belakangnya lintas negara. Lavinia telah mengunjungi lebih dari 40 negara dan pernah tinggal di beberapa di antaranya, termasuk Belgia, Azerbaijan, dan Indonesia. Livit Hub Bali yang ia pimpin dinobatkan sebagai salah satu Asia’s Best Workplaces. Ia juga founding member Remote-First Institute, dan karyanya diliput media seperti Washington Post dan CNET.

Titik awal RSA datang dari sebuah kegelisahan. Banyak pendatang di Bali sudah bertahun-tahun bekerja online, mengelola file, menerima booking, dan menjalankan bisnis digital dari jarak jauh, sementara penduduk setempat belum punya akses ke skill yang sama. Lavinia memutuskan membagikan skill itu lewat kelas. Dalam wawancara dengan Society of Women Engineers, ia bercerita tentang ibu rumah tangga yang penghasilannya melampaui penghasilan seluruh keluarganya setelah beberapa bulan belajar skill baru. Itu satu cerita dari pengalamannya. Hasil tiap orang berbeda, tergantung skill, klien, dan konsistensi masing-masing.

2. Bagaimana Remote Skills Academy dibangun?

RSA dimulai pada 2020 dengan Virtual Assistance sebagai program pertama dan kini memiliki 50+ materi kursus, 80+ trainer dan mentor, serta lebih dari 40.000 alumni. Misinya adalah membuka akses karier remote lewat pendidikan digital yang inklusif, sehingga lokasi tempat tinggal tidak lagi membatasi peluang kerja.

Beberapa fakta penting tentang RSA :

  • Alumni: 40.000+ alumni, mayoritas dari Indonesia.
  • Kurikulum: 50+ materi kursus, mulai dari Virtual Assistance, Data Entry, Digital Marketing, hingga Project Management dan AI.
  • Pengajar: 80+ trainer dan mentor, dengan praktisi industri berpengalaman 5+ tahun.
  • Jangkauan: program di Indonesia dan beberapa negara lain, yaitu Hungaria, Thailand, Rwanda, dan Belgia.
  • Visi 10 tahun: setiap pemuda Asia Tenggara punya kesempatan belajar kerja remote dan mengakses peluang global.

Dampaknya paling mudah dilihat dari cerita alumni. Gristia Aldila, seorang ibu rumah tangga yang sempat lama berhenti bekerja kantoran, mengikuti Super VA Bootcamp dan magang tiga bulan, lalu mendapat klien profesional lewat komunitas RSA. Gadly Adiat mendapat kesempatan magang di perusahaan teknologi Australia setelah dua bulan belajar, dan ditawari bergabung dengan tim penuh di hari terakhir magangnya. Cerita lengkap mereka ada di halaman blog RSA.

RSA sendiri menyebut alumni mengalami perubahan nyata dalam 3 sampai 6 bulan, termasuk penghasilan yang naik hingga tiga kali lipat pada sebagian alumni. Angka itu adalah hasil terbaik, bukan rata-rata, jadi perlakukan sebagai gambaran kemungkinan, bukan janji.

Untuk pemula, program yang paling sering menjadi pintu masuk adalah Super VA Bootcamp dengan magang berbayar 3 bulan, karena peserta langsung membangun portofolio dari pekerjaan nyata.

3. Bagaimana pengakuan global membentuk suara Lavinia dari Indonesia?

Lavinia mendapat pengakuan internasional di bidang remote work dan future of work, termasuk Top 50 Remote Innovator 2023 dan 2024, peringkat #15 global dan #1 Indonesia di kategori Remote Work & Digital Nomading, serta Top 50 APAC Future of Work & Education 2025. Pengakuan ini memberi RSA kredibilitas yang membuka pintu kolaborasi lintas negara.

PencapaianKonteks
Peringkat #15 secara global dan #1di Indonesia, kategori Remote Work & Digital NomadingMenempatkan Lavinia sebagai suara paling berpengaruh dari Indonesia di topik ini
Top 50 Remote Innovator 2023 (Remote Influencer report 2023)Pengakuan global atas inovasi di bidang remote work
Top 50 Remote Innovator 2024 (Remote Influencer Report 2024, PDF,daftar nama dari Iwo Szapar)Masuk Remote Influencer Report 2024 dari Remote: 150 pakar remote work dunia dalam tiga kategori (Innovators, Enablers, Accelerators), masing-masing 50 orang, dipilih oleh panel juri ahli. Lavinia ada di kategori Innovators
Top 50 APAC Future of Work & Education 2025Pengakuan di tingkat Asia Pasifik untuk kontribusi di topik masa depan kerja dan pendidikan
Livit Hub Bali, salah satu Asia's Best Workplaces Pengakuan atas budaya kerja di organisasi yang ia pimpin
Outstanding Employee Wellbeing, Flexible Workplace Award, Running Remote Montreal 2022 Penghargaan untuk Livit atas kesejahteraan karyawan

Pengakuan seperti ini penting karena kerja remote dari Indonesia sering dipandang sebelah mata oleh klien luar negeri yang belum mengenal talenta kita. Ketika seorang founder yang berbasis di Bali masuk daftar pakar global, nama RSA ikut dikenal oleh perusahaan dan komunitas yang selama ini tidak mencari talenta dari Indonesia. Efeknya terasa langsung bagi alumni, karena kepercayaan terhadap lembaga yang melatih mereka ikut naik.

4.Seperti apa masa depan kerja di era AI menurut Lavinia?

Fokus Lavinia kini berkembang dari pertanyaan “bagaimana bekerja remote” ke pertanyaan “pekerjaan seperti apa yang tetap bermakna dan bernilai ketika AI mengerjakan semakin banyak tugas”. Perubahan ini ia sampaikan lewat postingan LinkedIn-nya, dan sudah tercermin dalam cara RSA menyusun program, yaitu dengan menempatkan AI sebagai alat yang harus dikuasai sekaligus dinilai oleh manusia.

Pergeseran ini wajar karena kerja remote sudah menjadi hal biasa bagi banyak perusahaan. Pertanyaan yang lebih menentukan sekarang adalah apa yang membuat seseorang tetap dicari klien ketika tugas rutin bisa dikerjakan AI dalam hitungan detik.

Lavinia menjawabnya dalam podcast Humans + AI dengan beberapa poin:

  • Nilai bergeser dari menumpuk pengetahuan ke kualitas penilaian. Karena informasi mudah diakses, kemampuan seperti rasa ingin tahu, adaptabilitas, dan discernment (kemampuan menilai mana yang tepat) menjadi pembeda.
  • Kemampuan mengarahkan AI makin berharga. Ia menyebut AI orchestration, yaitu mengatur beberapa alat AI untuk satu tujuan, dan kemampuan menilai hasil AI dengan selera dan pertimbangan yang matang.
  • Kepemimpinan menggabungkan sistem dan empati. Memahami apa yang bisa diotomatisasi AI perlu berjalan bersama kejernihan emosi, koneksi, dan ketajaman menilai.
  • Kemitraan manusia dan AI dikelola serius. Ia memperkenalkan konsep PAIR (People and AI Resources), yang menekankan kualitas kerja sama antara manusia dan AI di dalam organisasi.

Gagasan ini punya akar lama dalam tulisannya. Dalam esai tentang masa depan kerja di situs pribadinya, Lavinia sudah menulis bahwa kebebasan kerja hanya berhasil bagi orang yang disiplin dan mampu mengelola diri, dan bahwa pikiran yang jernih membuat seseorang tidak mudah digantikan algoritma atau AI.

Angka dari RSA menunjukkan teorinya dijalankan. Dalam podcast yang sama, Lavinia menyebut RSA menyediakan AI upskilling untuk sekitar 10.000 orang dalam satu tahun, mencakup freelancer, pencari kerja, mahasiswa, pekerja sektor pariwisata, dan pemilik usaha kecil. Kurikulum Super VA Bootcamp juga berbasis AI, supaya peserta belajar memakai alat AI sebagai bagian dari pekerjaan sehari-hari sebagai Virtual Assistant.

5. Mengapa Kisah Lavinia Penting bagi Kamu yang Ingin Memulai Karier Remote?

Perjalanan Lavinia penting karena menunjukkan bahwa peluang kerja remote dan global terbuka bagi talenta Indonesia, dan bahwa skill yang paling bertahan lama adalah skill yang dipadukan dengan penilaian manusia. Kamu tidak perlu menjadi founder untuk memakai pelajaran ini di karier remote pertamamu.

Kenapa begitu? RSA dibangun dari kegelisahan yang sama dengan yang mungkin kamu rasakan: ingin bekerja fleksibel dengan klien global, tetapi belum tahu mulai dari mana. Lavinia dan tim RSA sudah melihat ribuan alumni melewati tahap itu. Berikut hal yang bisa kamu terapkan:

  1. Mulai dari satu skill yang konkret. Virtual Assistance dan Data Entry adalah pintu masuk yang realistis untuk pemula, karena bisa dimulai dari skill administratif dasar. Baca juga 10 Skill Remote yang Banyak Dibutuhkan di 2027.
  2. Bangun portofolio dari pekerjaan nyata. Magang, proyek kecil untuk teman, atau sample project membuktikan kemampuanmu lebih meyakinkan daripada sertifikat saja.
  3. Pakai AI sebagai alat, lalu cek hasilnya sendiri. Latih kebiasaan membaca ulang hasil AI sebelum dikirim ke klien, karena di situlah nilai tambahmu.
  4. Asah kemampuan menilai lewat latihan. Bandingkan dua hasil AI, pilih yang lebih tepat, dan tulis alasannya. Kebiasaan ini melatih penilaian yang dicari klien.
  5. Masuk komunitas. Dua alumni RSA di atas mendapat klien lewat jaringan komunitas, jadi relasi sama pentingnya dengan skill.

Tentang penghasilan, rentangnya lebar dan bergantung pada skill, pengalaman, klien, dan jam kerja. Untuk gambaran yang lebih realistis, baca Berapa Penghasilan Data Entry Remote? dan Peluang Menjadi Virtual Assistant untuk Pemula.

Pertanyaan yang sering diajukan

Siapa pendiri Remote Skills Academy?

Remote Skills Academy didirikan oleh Lavinia Iosub pada 2020. Ia juga CEO Livit International dan founder Livit Hub Bali, pusat bagi entrepreneur, startup, dan pekerja remote yang berbasis di Bali.

Apa itu Remote Skills Academy?

Remote Skills Academy (RSA) adalah platform pendidikan yang membantu anak muda Indonesia belajar skill digital untuk kerja remote, seperti Virtual Assistance, Data Entry, Digital Marketing, dan Project Management. RSA sudah memiliki lebih dari 22.000 alumni dan menyediakan kelas rekaman, live class, mentoring offline, dan ebook.

Apa penghargaan yang pernah diterima Lavinia Iosub?

Lavinia tercatat sebagai Top 50 Remote Innovator 2023 dan 2024, peringkat #15 global dan #1 Indonesia di kategori Remote Work & Digital Nomading, dan Top 50 APAC Future of Work & Education 2025. Livit Hub Bali yang ia pimpin juga masuk daftar Asia’s Best Workplaces.

Bagaimana AI mengubah pekerjaan remote?

AI mengambil alih tugas rutin seperti membuat draf dan merangkum informasi, sehingga nilai pekerja bergeser ke penilaian, adaptabilitas, dan kemampuan mengarahkan AI. Karena itu, skill digital sebaiknya dipelajari bersama kebiasaan mengecek dan memperbaiki hasil AI.

Apakah pemula tanpa pengalaman bisa belajar di RSA?

Bisa. RSA menyediakan jalur dari nol, termasuk ebook untuk pemula dan Super VA Bootcamp dengan magang berbayar tiga bulan. Hasil tiap orang berbeda, tergantung usaha belajar, portofolio, dan klien yang didapat.

Ingin mulai membangun karier remote?

Jika cerita ini membuatmu penasaran dengan jalur kerja remote, lihat program RSA untuk menemukan kelas yang cocok, atau mulai gratis lewat Free Course dan Career Navigator. Kamu juga bisa membaca lebih dulu daftar skill remote yang dibutuhkan menjelang 2027.

Back to Top